Kabar Baru
RTH Sumberrjo Banyuwangi "Terbengkalai" dinilai Hampurkan Dana APBD
Aktivitas Pertambangan Di Area Persawahan LSD Banyuwangi Patut Dipertanyakan, APH Diam?
Penambangan Batuan di Dusun Pakis Songgon diduga Ilegal Terkesan Pembiaran APH, Ada Apa Dengan Pak Pol?
Operasional Aktivitas Tambang di Desa Gambor Patut Dipertanyakan, Pak Kaporesta Jangan Diam!
RSUD Blambangan Banyuwangi Alokasikan Anggaran Rp 3,48 Miliar untuk Cleaning service
Anggaran Banyuwangi Festival 2024 Capai Rp8,7 Miliar, Puluhan Event Digelar Sepanjang Tahun
RTH Sumberrjo Banyuwangi "Terbengkalai" dinilai Hampurkan Dana APBD
Aktivitas Pertambangan Di Area Persawahan LSD Banyuwangi Patut Dipertanyakan, APH Diam?
Penambangan Batuan di Dusun Pakis Songgon diduga Ilegal Terkesan Pembiaran APH, Ada Apa Dengan Pak Pol?
Operasional Aktivitas Tambang di Desa Gambor Patut Dipertanyakan, Pak Kaporesta Jangan Diam!
RSUD Blambangan Banyuwangi Alokasikan Anggaran Rp 3,48 Miliar untuk Cleaning service
Anggaran Banyuwangi Festival 2024 Capai Rp8,7 Miliar, Puluhan Event Digelar Sepanjang Tahun
Cuaca
Memuat cuaca...
Opini

Bara Kekecewaan yang Siap Menyala di Jalanan

Bara Kekecewaan yang Siap Menyala di Jalanan

Opini publik, Pohuwato-Ketika suara rakyat berulang kali dipinggirkan, jalanan selalu menemukan caranya sendiri untuk berbicara. Pohuwato hari ini tidak sedang menghadapi sekadar rencana aksi biasa, melainkan akumulasi dari kegelisahan panjang yang tak kunjung menemukan jawaban. 

 

Ribuan massa yang bersiap turun ke jalan bukanlah peristiwa yang lahir tiba-tiba, ia adalah konsekuensi dari persoalan yang terus dibiarkan menggantung.

 

Tidak ada mobilisasi besar tanpa sebab. Ketika aksi dirancang berlangsung selama tujuh hari dengan melibatkan ribuan orang, itu menjadi sinyal keras bahwa ruang dialog yang seharusnya menjadi jalur utama justru tidak berjalan efektif. 

 

Aspirasi yang tidak terserap, keluhan yang tidak ditindaklanjuti, serta kebijakan yang dianggap tidak berpihak, perlahan membentuk tekanan sosial yang sulit diabaikan.

 

Isu penambang rakyat di Pohuwato menjadi salah satu titik krusial yang memantik gelombang ini. Bagi sebagian masyarakat, aktivitas tambang bukan sekadar pekerjaan, tetapi soal bertahan hidup. 

 

Ketika penertiban dilakukan tanpa solusi yang jelas dan berkeadilan, yang muncul bukan hanya penolakan, tetapi juga rasa ketidakadilan yang semakin dalam. Di titik inilah negara diuji, apakah hadir sebagai penyelesai masalah, atau justru menjadi bagian dari persoalan itu sendiri.

 

Pernyataan keras yang beredar dari lapangan, meski ditafsirkan beragam, seharusnya tidak hanya dilihat sebagai retorika semata. Ia adalah refleksi dari meningkatnya frustrasi. Namun, di saat yang sama, situasi ini juga mengandung risiko besar. 

 

Sejarah telah memberikan pelajaran mahal bahwa ketegangan yang tidak dikelola dengan baik dapat berubah menjadi kericuhan yang merugikan semua pihak. Peristiwa 2023 menjadi pengingat bahwa eskalasi massa bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. 

 

Ketika emosi kolektif bertemu dengan kondisi lapangan yang tidak kondusif, batas antara aksi damai dan kekacauan bisa menjadi sangat tipis. Oleh karena itu, semua pihak memegang tanggung jawab yang sama besar—bukan hanya untuk menyuarakan, tetapi juga menjaga.

 

Pemerintah tidak bisa lagi hanya bersikap reaktif. Pendekatan keamanan semata tanpa diimbangi penyelesaian substansi masalah hanya akan memperpanjang siklus ketegangan. 

 

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membuka ruang dialog yang nyata, mendengar tanpa defensif, dan menghadirkan solusi yang konkret serta berkeadilan.

 

Di sisi lain, massa aksi juga dihadapkan pada ujian kedewasaan. Demonstrasi adalah hak konstitusional, tetapi cara menyampaikannya menentukan arah dampaknya. 

 

Ketika tuntutan disuarakan dengan tertib dan terukur, peluang untuk didengar akan lebih besar dibandingkan jika aksi berubah menjadi destruktif.

Pohuwato kini berada di persimpangan penting. 

 

Di satu sisi, ada peluang untuk menjadikan momentum ini sebagai titik balik menuju penyelesaian konflik yang lebih baik. Namun di sisi lain, ada risiko jika semua pihak tetap berjalan dengan ego masing-masing tanpa upaya meredakan tensi.

 

Aksi besar bukanlah ancaman jika dikelola dengan baik. Ia justru bisa menjadi ruang koreksi bagi kebijakan yang selama ini dianggap tidak berpihak. Namun jika diabaikan atau ditangani secara keliru, ia berpotensi menjadi pintu masuk bagi konflik yang lebih luas.

 

Pada akhirnya, pertanyaan besar yang harus dijawab bukan sekadar apakah aksi akan terjadi atau tidak. Pertanyaan sesungguhnya adalah, apakah semua pihak siap belajar dari masa lalu, atau justru kembali mengulang kesalahan yang sama?

 

Sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu, apakah akan dijadikan pelajaran, atau kembali terulang sebagai penyesalan.

 

Penulis Opini publik : Arlan

Ar
Penulis Arlan
Ti
Editor Tim Redaksi
Sumber Media Indonesia Times

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Data A Satu dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Data A Satu namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Data A Satu.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN