Kabar Baru
Seorang warga Merasa Kecewa Dengan Kinerja Polresta Banyuwangi Ngundang komentar Nitizen
RTH Sumberrjo Banyuwangi "Terbengkalai" dinilai Hampurkan Dana APBD
Aktivitas Pertambangan Di Area Persawahan LSD Banyuwangi Patut Dipertanyakan, APH Diam?
Penambangan Batuan di Dusun Pakis Songgon diduga Ilegal Terkesan Pembiaran APH, Ada Apa Dengan Pak Pol?
Operasional Aktivitas Tambang di Desa Gambor Patut Dipertanyakan, Pak Kaporesta Jangan Diam!
RSUD Blambangan Banyuwangi Alokasikan Anggaran Rp 3,48 Miliar untuk Cleaning service
Seorang warga Merasa Kecewa Dengan Kinerja Polresta Banyuwangi Ngundang komentar Nitizen
RTH Sumberrjo Banyuwangi "Terbengkalai" dinilai Hampurkan Dana APBD
Aktivitas Pertambangan Di Area Persawahan LSD Banyuwangi Patut Dipertanyakan, APH Diam?
Penambangan Batuan di Dusun Pakis Songgon diduga Ilegal Terkesan Pembiaran APH, Ada Apa Dengan Pak Pol?
Operasional Aktivitas Tambang di Desa Gambor Patut Dipertanyakan, Pak Kaporesta Jangan Diam!
RSUD Blambangan Banyuwangi Alokasikan Anggaran Rp 3,48 Miliar untuk Cleaning service
Cuaca
Memuat cuaca...
Berita

Dampak Rehabilitasi Total Irigasi, Air Tak Tersalurkan ke Sejumlah Wilayah Lempuing

Dampak Rehabilitasi Total Irigasi, Air Tak Tersalurkan ke Sejumlah Wilayah Lempuing
OKI – Media Indonesia Times| Sejumlah masyarakat dan petani di Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mengeluhkan belum tersalurkannya air irigasi ke beberapa titik persawahan. Kondisi ini diduga kuat akibat rehabilitasi total jaringan irigasi induk yang tengah berlangsung di beberapa lokasi.

Berdasarkan keterangan masyarakat, proyek rehabilitasi irigasi yang dikerjakan oleh PT Waskita dan Brantas menyebabkan aliran air dari BK 21 hingga wilayah Lempuing belum dapat dilewati air. Akibatnya, sejumlah jaringan irigasi turunan, termasuk jaringan sier cacing di Desa Tebing Suluh, tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Selain faktor proyek rehabilitasi, kerusakan juga diperparah oleh dampak alam. Dalam beberapa waktu terakhir, curah hujan tinggi disertai luapan air yang datang secara tiba-tiba dan deras dari wilayah OKU Timur dan OKI mengakibatkan sejumlah bangunan irigasi di Lempuing mengalami jebol dan roboh.

Masyarakat menegaskan bahwa pada dasarnya seluruh bangunan jaringan irigasi tersebut berada di bawah tanggung jawab Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) VIII Palembang. Oleh karena itu, para petani dan warga Lempuing serta wilayah sekitarnya memohon kepada instansi terkait agar segera melakukan perbaikan, khususnya pada jaringan irigasi kecil yang rusak akibat banjir bandang yang terjadi pada 8–15 Januari lalu.

“Dampaknya sangat besar. Banyak tanaman padi rusak, bahkan proyek-proyek irigasi ikut hancur diterjang air deras,” ujar salah seorang warga kepada Media Indonesia Times. Masyarakat juga meluruskan bahwa kerusakan bangunan irigasi tersebut bukan disebabkan oleh kualitas bangunan yang buruk atau pengerjaan asal-asalan, melainkan murni akibat faktor alam. Debit air yang melebihi kapasitas bangunan, ditambah genangan air dan curah hujan tinggi dalam waktu lama, menyebabkan tanah terkikis, menjadi lembek, hingga akhirnya merusak dan merobohkan bangunan irigasi.

Warga berharap pemerintah pusat melalui instansi teknis terkait dapat segera turun tangan, agar sistem irigasi kembali berfungsi normal dan para petani dapat melanjutkan aktivitas pertanian tanpa kekhawatiran akan gagal panen. (MH/Tim)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!