Kabar Baru
Seorang warga Merasa Kecewa Dengan Kinerja Polresta Banyuwangi Ngundang komentar Nitizen
RTH Sumberrjo Banyuwangi "Terbengkalai" dinilai Hampurkan Dana APBD
Aktivitas Pertambangan Di Area Persawahan LSD Banyuwangi Patut Dipertanyakan, APH Diam?
Penambangan Batuan di Dusun Pakis Songgon diduga Ilegal Terkesan Pembiaran APH, Ada Apa Dengan Pak Pol?
Operasional Aktivitas Tambang di Desa Gambor Patut Dipertanyakan, Pak Kaporesta Jangan Diam!
RSUD Blambangan Banyuwangi Alokasikan Anggaran Rp 3,48 Miliar untuk Cleaning service
Seorang warga Merasa Kecewa Dengan Kinerja Polresta Banyuwangi Ngundang komentar Nitizen
RTH Sumberrjo Banyuwangi "Terbengkalai" dinilai Hampurkan Dana APBD
Aktivitas Pertambangan Di Area Persawahan LSD Banyuwangi Patut Dipertanyakan, APH Diam?
Penambangan Batuan di Dusun Pakis Songgon diduga Ilegal Terkesan Pembiaran APH, Ada Apa Dengan Pak Pol?
Operasional Aktivitas Tambang di Desa Gambor Patut Dipertanyakan, Pak Kaporesta Jangan Diam!
RSUD Blambangan Banyuwangi Alokasikan Anggaran Rp 3,48 Miliar untuk Cleaning service
Cuaca
Memuat cuaca...
Berita

Kebakaran RSUD Dr. Soetomo Membuka Rapuhnya Sistem Keselamatan Rumah Sakit

Kebakaran RSUD Dr. Soetomo Membuka Rapuhnya Sistem Keselamatan Rumah Sakit

Surabaya - Media Indonesia Times | Kebakaran di Gedung PPJT RSUD Dr. Soetomo pada Jumat pagi, 15 Mei 2026, bukan sekadar insiden teknis di fasilitas kesehatan terbesar di Jawa Timur. Peristiwa ini adalah alarm keras tentang betapa rentannya sistem layanan rumah sakit ketika keselamatan, mitigasi bencana, dan kesiapan evakuasi pasien kritis diuji dalam kondisi nyata.

 

Satu pasien kritis meninggal dunia di tengah proses penanganan darurat dan evakuasi medis. Di saat yang sama, puluhan pasien lain dipindahkan secara cepat dari ruang intensif akibat kepulan asap yang memenuhi lantai 4 hingga lantai 6 gedung pelayanan. Fakta ini memperlihatkan bahwa kebakaran di rumah sakit bukan hanya soal api, tetapi soal hitungan menit antara hidup dan kematian.

 

Dalam konferensi pers resmi pukul 09.30 WIB di lantai 4 IGD RSUD Dr. Soetomo, jajaran manajemen rumah sakit menegaskan bahwa mayoritas pasien berhasil dievakuasi dalam menit-menit awal. Namun di balik narasi “evakuasi berjalan cepat”, terdapat kenyataan yang jauh lebih serius: ada pasien yang tidak bisa dipindahkan secara normal karena hidupnya sepenuhnya bergantung pada ventilator, alat bantu jantung, dan mesin penunjang vital lainnya.

 

Di titik inilah tragedi sebenarnya terlihat. Rumah sakit modern seharusnya menjadi tempat paling siap menghadapi situasi darurat internal. Tetapi ketika asap tebal membuat akses ICU menjadi sangat berisiko, sistem ketahanan fasilitas kesehatan dipertanyakan secara terbuka. Seberapa siap sebenarnya bangunan vital negara menghadapi kebakaran? Apakah jalur evakuasi pasien kritis benar-benar dirancang untuk kondisi terburuk? Dan mengapa proses penyelamatan pasien dengan ketergantungan alat medis masih menghadapi hambatan besar ketika bencana terjadi?

 

Penjelasan bahwa pasien meninggal bukan akibat paparan asap memang penting secara medis. Namun publik juga berhak melihat fakta yang lebih luas: pasien dalam kondisi kritis justru menjadi kelompok paling rentan saat sistem rumah sakit mengalami gangguan. Dalam keadaan normal saja mereka bertarung dengan maut, apalagi ketika listrik, akses ruang intensif, dan stabilitas alat medis terguncang oleh kebakaran.

 

Kebakaran ini sekaligus membuka realitas yang selama ini jarang dibahas secara serius: banyak rumah sakit besar di Indonesia berdiri dengan kompleksitas infrastruktur tinggi, tetapi belum sepenuhnya transparan mengenai standar kesiapsiagaan bencana internal mereka. Simulasi evakuasi sering dilakukan secara administratif, tetapi ujian sebenarnya baru terlihat ketika asap mulai memenuhi lorong ICU dan keputusan harus dibuat dalam hitungan detik.

 

Di sisi lain, langkah cepat tenaga medis, perawat, petugas penyelamat, hingga tim pemadam kebakaran patut diapresiasi. Mereka bekerja dalam tekanan ekstrem untuk memindahkan pasien sambil tetap menjaga alat bantu kehidupan tetap berfungsi. Tanpa respons simultan tersebut, dampak tragedi ini bisa jauh lebih besar.

 

Namun penghormatan terhadap kerja tenaga medis tidak boleh membuat evaluasi sistemik menjadi tumpul. Justru insiden ini harus menjadi momentum audit total terhadap sistem keselamatan rumah sakit pemerintah, khususnya fasilitas rujukan utama seperti RSUD Dr. Soetomo. Mulai dari instalasi listrik, sistem ventilasi asap, akses ICU, jalur evakuasi vertikal, cadangan daya darurat, hingga prosedur penyelamatan pasien berbasis ventilator harus diperiksa secara terbuka dan independen.

 

Fakta bahwa pelayanan IGD terpaksa dialihkan ke gedung lain menunjukkan satu hal penting: ketika satu titik vital lumpuh, efek dominonya langsung menyentuh sistem layanan kesehatan masyarakat secara luas. Ini bukan hanya persoalan internal rumah sakit, tetapi menyangkut keamanan publik.

 

Kini publik menunggu bukan hanya hasil penyelidikan penyebab kebakaran, tetapi juga keberanian institusi untuk membuka evaluasi menyeluruh. Sebab tragedi di rumah sakit tidak boleh berhenti sebagai berita harian. Ia harus menjadi peringatan bahwa keselamatan pasien tidak cukup dijaga dengan slogan pelayanan, melainkan dengan sistem yang benar-benar siap menghadapi bencana kapan pun terjadi. (Bagas)

Editor Tim Redaksi
Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!